Deflasi 5 Bulan Berturut-turut, Apa Dampaknya pada Ekspor-Impor?


October 18, 2024


Dalam lingkup ekonomi global, fenomena inflasi dan deflasi merupakan hal yang tidak terhindari. Namun berbeda dengan inflasi, deflasi umumnya lebih jarang terjadi. Sebab deflasi mengacu pada penurunan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu di suatu negara.

Baca juga: Should You Take Loans to Expand Your Business?

Contohnya terjadi pada Indonesia yang mengalami deflasi selama 5 bulan berturut-turut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat deflasi month to month (m-to-m) naik 0,12% pada bulan September 2024.

Deflasi jika dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan kekhawatiran dan spekulasi jangka panjang pada situasi perekonomian, termasuk sektor ekspor-impor. Artikel ini akan membahas pengaruh deflasi yang terjadi selama 5 bulan berturut-turut di Indonesia dan dampaknya terhadap ekspor-impor.

Apa Itu Deflasi?

Pengertian deflasi sebenarnya cukup mudah didefinisikan. Dalam istilah ekonomi, fenomena deflasi merupakan suatu situasi yang mengacu pada penurunan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu.

Jika dilihat secara garis besar biasanya deflasi dapat ditandai dari berkurangnya jumlah uang yang beredar di masyarakat, bisa karena lesunya daya beli karena pembatasan belanja atau adanya tren penyimpanan uang di bank. Dalam hal ini produksi barang menjadi terlalu banyak karena kurangnya diminati yang menyebabkan nilai suatu komoditas menajdi turun.

Penyebab Deflasi

Lebih jauh, deflasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini:

Lesunya Permintaan Pasar

Saat minat akan suatu komoditas mengalami penurunan maka hal ini menjadi ancaman bagi penjual di mana sisa barang mereka menjadi banyak. Hal ini tidak jarang disiasati dengan penurunan harga agar konsumen tertarik untuk membeli.

Kapasitas Produksi Berlebih

Ketika produsen mengalami hasil produksi yang berlebihan, biasanya akan terjadi ketidakseimbangan antara jumlah penawaran dan permintaannya yang menyebabkan harga barang menjadi turun.

Tukar Nilai Mata Uang Asing yang Menguat

Ketika nilai mata uang kita mengalami penguatan terhadap mata uang asing, maka hal ini akan memberikan dampak di mana barang-barang impor dapat menjadi lebih murah. Seperti efek domino, hal ini juga akan memengaruhi harga produksi domestik.

Jenis-Jenis Deflasi

Secara umum deflasi dapat dikategorikan dalam dua jenis. Pembagian ini didasari oleh penyebab timbulnya yang berbeda. Apa saja jenis-jenis deflasi?

1. Deflasi Strategis

Deflasi strategis terjadi akibat dari adanya penetapan kebijakan untuk mengendalikan tingkat konsumsi yang berlebihan sehingga harga di pasaran tidak melonjak tajam.

Selain mengendalikan minat beli, deflasi strategis juga bisa muncul dari kebijakan bank sentral dalam menurunkan tingkat suku bunga. Hal ini berdampak pada mudahnya masyarakat untuk mendapatkan pinjaman di bank sehingga diharapkan banyak produsen yang mengalihkan uangnya dalam bentuk investasi bank dan bukan menambah modal produksi.

Untuk menerapkan deflasi strategis, pemangku kepentingan seperti pemerintah dan bank sentral harus menghitung dengan tepat waktu dan periodenya. Sebab dalam jangka panjang, deflasi strategis dapat membawa dampak negatif seperti peredaran uang yang lebih langka dan menyebabkan ketidakstabilan ekonomi negara, terutama pada sektor industri dan manufaktur.

2. Deflasi Sirkulasi

Berbeda dengan deflasi strategis, deflasi sirkulasi justru terjadi akibat situasi ekonomi yang tidak stabil. Kondisi ini dapat mengindikasikan penurunan ekonomi domestik di sebuah negara.

Deflasi sirkulasi pada dasarnya bukanlah pertanda baik, sebab hal ini muncul akibat daya konsumsi yang rendah sehingga komoditas produksi terpaksa turun harga.

Fenomena ini dapat terjadi akibat adanya resesi ekonomi di mana konsumen membatasi jumlah belanja mereka karena adanya ketidakstabilan pendapatan.

Dampak Deflasi Terhadap Ekspor

Seperti telah disebutkan sebelumnya, deflasi memiliki dampk tidak hanya pada pererkonomian domestik namun juga proses ekspor-impor.

Seperti diketahui, Indonesia memiliki berbagai komoditas unggulan dengan daya tarik tersendiri di pasar internasional seperti ekspor tepung dan bahan-bahan tekstil. Namun akibat deflasi yang terjadi, ada beberapa dampak yang akan terasa antara lain:

1. Peningkatan Daya Saing Prouk

Penurunan harga domestik yang terjadi akibat deflasi selama 5 bulan berturut-turut ini dapat membuat produk Indonesia memiliki nilai jual yang lebih rendah di pasar global. Pasalnya jika biaya produksi dalam negeri menurun karena adanya penurunan harga bahan baku dan tenaga kerja, maka eksportir juga bisa menurunkan harga jualnya agar mampu bersaing lebih baik dengan negara-negara kompetitor.

Dengan harga yang murah, diharapkan minat masyarakat dunia terhadap produk asal Indonesia bisa lebih tinggi. Hal ini juga perlu disesuaikan dengan jenis komoditasnya. Misalnya pada contoh kasus ekspor minyak sawit, batu bara dan ekspor karet yang menjadi komoditas andalan lain dari Indonesia. Kebutuhannya yang tinggi dengan harga murah dapat memperkuat posisi Indonesia di market global.

2. Risiko Adanya Penurunan Margin Profit

Walaupun harga yang murah dapat menarik lebih banyak pembeli, namun hal ini juga memiliki risiko negatif untuk penjualannya. Produsen harus berhati-hati dengan adanya risiko margin profit yang semakin rendah. Sebab saat harga-harga komoditas dipaksa turun akibat deflasi, sementara biaya produksi tidak mengalami penurunan signifikan, maka jumlah keuntungan menjadi lebih tipis. Hal ini dapat memperlambat laju investasi dalam hal kapasitas produksi dan inovasi sehingga pertumbuhan ekspor untuk jangka panjang ikut terhambat.

Dampak Deflasi Terhadap Impor

Selain membawa dampak pada kegiatan ekspor, deflasi juga memengaruhi aktivitas impor yang dilakukan, terutama pada daya beli domestik, dan nilai tukar mata uang. Seperti apa dampaknya?

1. Menurunnya Harga Barang Impor

Melalui deflasi, harga barang-barang impor dapat lebih murah. Misalnya pada barang-barang seperti elektronik, bahan makanan, dan kendaraan impor yang sebelumnya sulit dijangkau beberapa golongan kini menjadi lebih terjangkau. Hal ini dapat berpotensi meningkatkan volume impor.

Dampak negatifnya persaingan di pasar domestik menjadi tidak sehat. Produsen lokal mau tidak mau harus bertarung harga dan kualitas dengan barang impor yang umumnya diproduksi secara masal dan memiliki ongkos lebih murah. Jika tidak diberlakukan kuota impor. Produsen domestik perlahan akan kehilangan pasar yang justru hal melemahkan industri dalam negeri.

2. Kurangnya Minat pada Barang Modal dan Bahan Baku

Tidak sedikit perusahaan yang akhirnya mengurangi jumlah produksi akibat deflasi selama 5 bulan berturut-turut. Hal ini akhirnya dapat memberikan dampak pada berkurangnya permintaan terhadap barang modal dan bahan baku. Seperti efek berkelanjutan, hal ini juga akan memperlambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Itulah kemungkinan dampak yang terjadi akibat deflasi pada sektor ekspor-impor. Diharapkan semoga situasi ini segera membaik dan laju pertumbuhan ekonomi dapat kembali menguat.

Contact the Uniair Cargo team today for a FREE consultation and export cost estimate!
Also, follow us on Instagram at @uniaircargo for logistics tips, up-to-date information, and export inspiration!

Ekspor Ban
Ekspor-Impor

AUGUST 07, 2025

Berikut Panduan Lengkap Ekspor Ban Mobil

warehouse and transportation
Ekspor-Impor

JULY 24, 2025

Choosing the Right Ports for Ocean Freight Efficie...

Apa yang Terjadi Apabila Kontainer Hilang
Ekspor-Impor

OCTOBER 24, 2024

Apa yang Terjadi Apabila Kontainer Hilang atau Rus...