Indonesia terkenal akan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Hal ini pula yang menjadikan Indonesia mampu menjadi produsen sekaligus eksportir berbagai bahan nonmigas di dunia.
Ekspor nonmigas menjadi salah satu tulang punggung perekonomian negara karena memberikan kontribusi yang signifikan sekaligus menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia mencapai angka 18.090,3 juta dollar Amerika pada bulan Februari 2024. Angka ini sedikit turun dibandingkan Januari 2024 yang menembus 19.096,5 juta dollar Amerika.
Apa saja ekspor nonmigas terbesar di Indonesia?
Untuk menjawab seberapa kuat Indonesia untuk disebut sebagai eksportir bahan-bahan nonmigas, berikut 11 komoditas nonmigas yang diekspor dari Indonesia.
Bahan bakar mineral (HS 27) merupakan komoditas yang paling banyak diekspor dari Indonesia, kapasitasnya mencapai 22,99% dari keseluruhan total ekspor. Negara yang banyak menerima ekspor ini ialah Tiongkok dengan nilai transaksi 17,58 miliar dollar Amerika, kemudian disusul India senilai 7,54 miliar dollar Amerika, dan Jepang sebesar 6,67 miliar dollar Amerika pada tahun 2023.
Komoditas selanjutnya ialah lemak dan minyak hewani/nabati. Total ekspor pada produk ini menyentuh angka 28,45 miliar dollar Amerika dengan presentasi total ekspor 10,99%.
Dilansir dari situs Kementerian Perdagangan, besi dan baja merupakan salah satu unggulan yang mengalami surplus tertinggi di Indonesia pada tahun 2022. Saking tingginya permintaan akan besi dan baja, nilai transaksinya pun fantastis mencapai angka Rp900 triliun atau setara dengan 54 miliar dollar Amerika.
Dengan semakin majunya industri elektronik dalam negeri menjadikan Indonesia sebagai eksportir untuk permesinan dan perlengkapan elektrik bagi dunia. Salah satu negara tujuan dari ekspor mesin ini ialah Amerika Serikat. Terbukti pada tahun 2021, Indonesia berhasil mengumpulkan nilai transaksi ekspor mesin dan peralatan elektronik mencapai 11.798,8 juta dollar Amerika.
Situs Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menyebutkan perkembangan kelompok industri bahan kimia yang diekspor dari Indonesia terdiri dari beberapa jenis antara lain sabun dan bahan pembersih keperluan rumah, barang kimia, kimia dasar organik, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, arang kayu, minyak atsiri, dan lain-lain. Permintaan yang tinggi menjadi sinyal positif untuk pertumbuhan ekonomi. Bahkan pada tahun 2021, nilai pertumbuhannya mencapai US$6.905,4 juta.
Bijih logam merupakan komoditas dengan peningkatan tertinggi di Februari 2024 mencapai 34,01% atau setara dengan 223,5 juta dollar Amerika. Penyebaran ekspor komoditas ini menjangkau Tiongkok dengan nominal US$4,06 miliar, kemudian Amerika Serikat senilai 2,10 miliar dollar Amerika, dan India dengan total transaksi 1,53 miliar dollar Amerika.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh ITC Trademap, Indonesia merupakan eksportir perhiasan dengan trans positif yang terus tumbuh bahkan mencapai 16,6% di tahun 2023. Beberapa negara menjadi langganan tetap penerima ekspor logam mulia dan perhiasan antara lain Swiss, Singapura, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat.
Indonesia mengeluarkan larangan ekspor nikel pada 1 Januari 2020. Hal ini dikarenakan nilai nikel mentah dianggap terlalu murah dibanding jika nikel tersebut dikelola lebih dahulu. Berkat larangan ini, permintaan nikel semakin melonjak tajam. Seperti yang dicatatkan BPS pada tahun 2022 di mana nilai ekspor komoditas turunan nikel meningkat tumbuh 263% atau sekitar 12,35 miliar dollar Amerika.
Pada tahun 2023, harga kakao mencapai angka tertinggi di level GBP 3.2777 per ton. Lonjakan ini berpengaruh pada nilai ekspor kakao dan olahan turunannya di Indonesia yang menembus angka 1,2 miliar dollar Amerika.
Karet adalah komoditas ekspor nonmigas lainnya yang penting bagi Indonesia. Produk karet Indonesia banyak digunakan dalam industri otomotif, elektronik, dan manufaktur lainnya. Pada tahun 2023, ekspor karet berhasil menyumbang 1,76 juta ton atau setara dengan 2,51 miliar dollar Amerika. Meskipun harga karet dapat fluktuatif, namun ekspor karet tetap menjadi salah satu keunggulan dari sektor nonmigas.
Sebagai negara maritim dengan sumber daya perikanan yang melimpah, ekspor produk perikanan seperti ikan, udang, dan lobster menjadi salah satu komoditas nonmigas yang diunggulkan. Permintaan akan produk perikanan yang terus meningkat, membuat sektor ini menjadi penyumbang penting dalam perekonomian negara. Tercatat nilai ekspor perikanan dari laut di Indonesia mencapai 5,6 miliar dollar Amerika pada selama tahun 2023.
Itulah 11 komoditas sektor nonmigas terbesar yang dimiliki Indonesia. Tentunya masih ada komoditas-komoditas lain yang meskipun nominalnya tidak sebesar ke-11 barang ini namun terus bertumbuh. Dengan adanya regulasi hukum yang jelas dan hubungan diplomatis yang baik antar negara, komoditas dari Indonesia masih memiliki kesempatan untuk terus meningkat dan menjadi pilihan di berbagai negara.
Untuk Anda yang tergabung dalam ekonomi dunia dan sedang mencari logistik berpengalaman lebih dari 34 tahun untuk ekspor dan impor, Anda dapat menghubungi Unair Cargo melalui email contact@uniaircargo.co.id, dapatkan penawaran terbaiknya sekarang.
Contact the Uniair Cargo team
today for a FREE consultation and export cost estimate!
Also, follow us on Instagram at @uniaircargo
for logistics tips, up-to-date information, and export inspiration!